Thursday, August 15, 2013

Puisi Pembawa Maut Yang Terkenal Di Jepang

Tomino no Jigoku

 
Puisi Pembawa Maut Yang Terkenal Di Jepang

Dilarang membaca puisi ini dengan suara yang keras !

Masyarakat jepang sebagian besar mempercayai tentang puisi ini dan sangat tidak boleh untuk dibaca dengan suara yang lantang atau suara keras, puisi ini hanyalah boleh dibaca dalam hening. Apabila berani untuk membacanya dengan suara yang lantang, maka si pembaca harus menerima sendiri risiko dari puisi ini.

Kapan rumor tentang puisi Tomino no Jigoku merebak ?

Tidak seorang pun tahu mulai sejak kapan rumor puisi ini muncul dan merebak dan hal apa yang menyebabkannya. Tetapi  masyarakat jepang sebagian besar percaya bahwa semacam hal tragis akan menimpa kepada orang yang membaca puisi ini dengan suara yang keras. Dipercaya juga bahwa orang tersebut dapat saja mengalami kecelakaan yang tragis, terluka, atau bahkan hingga mati.

Bukti dari puisi Tomino no Jigoku

Cerita menyeramkan ini sudah sangat santer di 2ch, adalah tempat dimana orang-orang membuat video mereka ketika setiap orang membaca puisi ini dengan suara yang keras demi mematahkan atas kepercayaan tentang puisi yang menyeramkan ini. Beberapa dari para pengguna 2ch yang mengaku tidak menemui adanya hal-hal yang terjadi pada mereka, tetapi tidak sedikit juga para pengguna yang tiba-tiba hilang sesaat setelah berhasil mengunggah video mereka tersebut.

Berikut adalah puisi Tomino's Hell atau Tomino no Jigoku dalam versi asli dan bahasa Indonesia :



Versi Bahasa Jepang:
Tomino no Jigoku "Ane wa chi wo haku, imoto wa hihaku, kawaii tomino wa tama wo haku hitori jihoku ni ochiyuku tomino, jigoku kurayami hana mo naki. muchi de tataku wa tomino no aneka, muchi no shubusa ga ki ni kakaru. tatake yatataki yare tataka zutotemo, mugen jigoku wa hitotsu michi. kurai jigoku e anai wo tanomu, kane no hitsu ni, uguisu ni. kawa no fukuro ni yaikura hodoireyo, mugen jigoku no tabishitaku. haru ga kitesoru hayashi ni tani ni, kurai jigoku tanina namagari. kagoni yauguisu, kuruma ni yahitsuji, kawaii tomino no me niya namida. nakeyo, uguisu, hayashi no ame ni imouto koishi to koe ga giri. nakeba kodama ga jigoku ni hibiki, kitsunebotan no hana ga saku. jigoku nanayama nanatani meguru, kawaii tomino no hitoritabi. jigoku gozarabamo de kitetamore, hari no oyama no tomebari wo. akai tomehari date niwa sasanu, kawaii tomino no mejirushini."
Versi Bahasa Indonesia:
Neraka Tomino "Kakak perempuan muntah darah, adik perempuan memuntahkan api, Tomino yang lucu memuntahkan manik-manik kaca, Tomino jatuh ke neraka sendirian, Neraka yang gelap dan tak ditumbuhi bunga, Apakah itu kakak Tomino yang membawa cambuk? Cambukan meninggalkan bekas memerah yang mengerikan Mencambuk dan memukul, terus memukul Sebuah jalan menuju neraka Apakah kau akan mengantarnya ke neraka yang gelap? Untuk domba-domba emas, untuk burung bulbul Aku penasaran berapa banyak yang dimasukkannya dalam kantong kulit Sebagai persiapan untuk perjalanan ke neraka Musim semi datang, di hutan dan sungai Bahkan di sungai dalam neraka yang gelap Burung bulbul dalam sarang, domba dalam gerobak, Ada air mata di mata lucu Tomino Menangis, burung bulbul terbang ke hutan yang hujan Meneriakkan kerinduan pada adik perempuannya Tangisannya bergema ke seluruh neraka Bunga berwarna merah darah mekar Mengelilingi tujuh gunung dan tujuh sungai di neraka Tomino yang lucu berjalan sendirian Untuk menjemputmu ke neraka Jarum-jarum dalam neraka, menancap ke dalam daging segar, Sebagai tanda dari si lucu Tomino"


Hal ini pernah terjadi pada salah seorang penyiar radio yang pernah mencoba untuk membaca puisi ini dengan suara keras disaat dia sedang on-air. Sang penyiar radio itu mengaku bahwa semua baik-baik saja, tetapi sampai pada pertengahan puisi ini, dia mulai merasa beberapa bagian tubuhnya tidak dapat bergerak, akhirnya dia pun tidak melanjutkan untuk membacanya dan kemudian melempar puisi tersebut. Dan beberapa hari setelahnya diketaui dia telah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya harus dijahit sebanyak tujuh jahitan. dan walaupun begitu, sang penyiar radio itu tetap tidak ingin menganggap hal buruk yang telah menimpanya adalah akibat membaca puisi Tomino itu.

Bagaimana, apakah anda berani untuk mencoba membaca puisi ini dengan suara yang keras?

Artikel Terkait

Puisi Pembawa Maut Yang Terkenal Di Jepang
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email